Sayuran organik yang baru dipetik.
KEBUN SAYUR

Vila Botani memiliki kebun sendiri. Lebih dari setengah hektar lahan dimanfaatkan untuk kebun sayur organik. Kebanyakan sayur yang ditanam tumbuh sepanjang tahun seperti wortel, labu siam, kacang panjang, buncis, bayam, daun roket atau arugula, dan sayur-sayuran China (secim dan pak coy). Secara musiman, kami juga memanen tomat, daun bawang, berbagai sayuran untuk salad, jagung manis, kacang tanah, terong Medan, singkong beserta daunnya, dan masih banyak lagi jenisnya. Sewaktu-waktunya kami juga menanam padi organik.

Pertanian Vila Botani diurus oleh Pak Haji Agus, lelaki asal Cipanas, daerah pertanian terkenal di kawasan Puncak. Sejak 2011, Pak Haji Agus sudah menangani pertanian kami dengan sistem bagi hasil. Beliau mendapatkan keuntungan lebih besar setelah dipotong biaya kompos, benih dan gaji buruh tani. Kami hampir tidak pernah menggunakan mesin. Hasil kebun ditanam dan dipetik langsung oleh para pekerja lokal. Pak Haji sangat bangga pada sayur-sayuran hasil kebunnya.
 
 
PUPUK KOMPOS BERNUTRISI TINGGI

Pada awal 2007, setelah melakukan tes, kami mendapati bahwa tanah Vila Botani sangat asam (pH tanah hanya sekitar 4.5). Untuk memperbaiki sistem pengairan dan meningkatkan retensi tanah, lahan pun dibuat bertingkat-tingkat dengan panjang delapan meter dan lebar satu meter. Batu dolomit yang telah digerus sampai halus disebarkan di area lahan dengan tambahan kompos untuk meningkatkan pH. Kandang-kandang kambing dan domba yang kotorannya kami jadikan kompos juga kami manfaatkan sebagai tempat pembuatan pupuk tersebut.

Hampir setiap hari, kami memproduksi pupuk kompos organik yang bernilai tinggi. Kami membuatnya dari rumput-rumput dan daun-daun segar serta mencampurnya dengan pelepah pisang. Kami menggunakan mesin diesel untuk mencacah rumput serta daun tadi agar proses fermentasinya lebih cepat. Kami menggabungkan kotoran serta urin kambing untuk memaksi-malkan pengikatan nitrogen dan meningkatkan kesuburan tanah.
 
KAMBING dan DOMBA

Di Vila Botani, kami beternak kambing dan domba, bukan hanya untuk memanfaatkan kotorannya, tapi juga untuk menjual dagingnya terutama pada persiapan menyambut Idul Adha. Sepanjang 2014, ada 40 ekor kambing dan domba, tapi jumlah tersebut sudah turun sampai kurang dari 20 ekor (jumlah minimal untuk persediaan kotoran untuk kompos).