Listen to and view wildlife on Mt Salak
MAMALIA LAIN
Ini beberapa jenis mamalia lain yang terlihat di Vila Botani.
   
Babi Hutan
   
Babi hutan (wild boar) atau celeng (Sus scrofa) dipercaya asli dari kepulauan di Asia Tenggara dan seluruh wilayah liar di Indonesia.

Babi hutan merupakan satwa pemakan segala (omnivora). Makanannya berupa: kacang-kacangan, buah beri, biji-bijian, daun, batang, ranting, dan akar, bahkan sampah. Babi hutan juga memakan cacing, serangga, ikan, binatang pengerat, telur burung, kadal, ular, katak, dan bangkai. Akar-akaran, umbi batang, dan umbi juga akan digali dan bisa merusak lahan pertanian.

Babi hutan hidup di hutan tetapi terlihat di dekat area ladang ketika malam hari, tempat mereka makan, menggali, dan menjungkirbalikkan tanaman, yang menjadi kekesalan para petani. Babi hutan kerap tampak di malam hari di wilayah atas Vila Botani, tempat mereka menggali tanah di bawah rumput, untuk mencari cacing.
   
Tupai
   
Tupai atau slender squirrel (Sundasciurus tenuis) merupakan jenis satwa pengerat (rodent) yang ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, dan beberapa negara tetangga. Bulunya berwarna coklat terang. Ukuran tubuhnya sekitar 13-16cm, dengan ekor pendek yang ramping menjuntai. Makanannya berupa batang lunak, buah-buahan, dan serangga.
   
Musang
   
Musang atau luwak merupakan satwa yang aktif di malam hari (nokturnal). Musang Asia bertubuh kecil, panjang sampai 53cm. titik- abu dan hitam dengan panjang ekor 48cm. Tubuhnya pendek gemuk,rambut kasar yang biasanya berwarna abu. Cakarnya yang tajam memungkinkan untuk memanjat pohon dan atap rumah. Luwak terkenal mempunyai kebiasaan untuk memanen buah yang sudah masak, buah kopi yang sudah masak (cherry red) dipanennya dengan cara menga¬yun-kannya. Kemudian memakannya dan mengeluarkan dalam bentuk kotoran yang bijinya masih utuh. Biji kopi yang ada dalam kotoran luwak ini dikumpulkan oleh petani, dibersihkan, dan kemudian dijual dengan harga yang tinggi. Pengamat memuji kopi luwak karena keasaaman rendah dan aroma tinggi (rasa full bodied, dan earthy).
   
Luwak ganggarang
   
Luwak ganggarang merupakan luwak yang aktif makan di siang hari (diurnal).
 
1
Pelanduk
   
Pelanduk (kancil) yang cerdik difavoritkan di Indonesia dan Malaysia. Pelanduk adalah satwa yang tidak memiliki tanduk, mempunyai gigi taring panjang, seukuran kambing, dan tinggal di hutan Gunung Salak. Pelanduk memilik kaki dan ekor rusa, dengan wajah dan tubuh rusa tetapi bukan benar-benar rusa.

Pelanduk hanya makan tetumbuhan, tetapi banyak satwa yang memakan pelanduk. Untuk bertahan hidup, pelanduk harus cepat dan pintar. Itulah kenapa orang Indonesia menjadikan pelanduk sebagai yang cerdik dan disukai.
   
   
Kijang / Muntjac
2
   
Kijang atau muntjac merah sumatra adalah rusa kecil (Muntiacus). Muntjacs merupakan rusa tertua yang dikenal, diperkirakan mulai muncul antara 15-35 juta tahun yang lalu. Satwa-satwa ini sangat waspada dan dikenal dari suara gonggongan peringatan ketika terancam. Panjang tubuh muntjacs bervariasi dari 87-131 centi dan tingginya antara 37-65 cm. Jantan lebih pendek, tanduk tak bercabang di atas kepala dengan tinggi 15cm , dapat tumbuh kembali. Mereka sangat teritoris dan walau ukurannya kecil bisa sangat ganas. Pejantan berkelahi satu lawan satu dengan tanduknya demi teritori atau (lebih berbahaya) dengan taring mirip gigi atas anjing, dan bahkan dapat mempertahankan predator tertentu seperti anjing.
   
   
3
Macan Tutul
   
Beberapa macan tutul (javan leopard) mempunyai bulu totol sementara yang lain memilik warna bulu satu warna (fenotif resesif yang mengakibatkan sebuah warna bulu semua hitam). Mereka memangsa kijang, celeng, kancil, dan monyet ekor panjang, lutung, kelabu dan owa jawa. Macan tutul juga akan mencari makan dekat dengan desa dan memakan anjing, ayam, kambing. Jarang sekali (baru dua kali selama 17 tahun) turun ke Vila Botani atau sekitarnya.
   
   
Trenggiling
4
   
Trenggiling atau peusing (Sunda) terkenal juga sebagai pemakan semut, tampak seperti biji pinus yang berjalan karena sisik keratin yang menutupi kulit tubuhnya. Habitat alami trenggiling di seluruh daerah tropis Asia dagingnya dipandang sebagai kelezatan dan sisiknya dipercaya berkhasiat obat. Ketika mereka merasa terancam, mereka dapat menggulung ke dalam tubuhnya mirip bola. Trenggiling hanya bisa melihat jarak dekat maka mereka sangat tergantung pada indera pendengaran dan indra penciuman mereka sangat tajam untuk melacak jejak serangga untuk dimakan. Lidahnya mirip dengan lidah pemakan semut lain yang mereka gunakan untuk mengumpulkan semut atau serangga kecil. Mereka juga dilengkapi dengan kelenjar yang menciptakan bau busuk, mirip dengan sigung meskipun trenggiling tidak bisa menyemprot.