Listen to and view wildlife on Mt Salak
FAUNA & FLORA DI VILA BOTANI


Di Vila Botani dan area di sekitarnya ada flora yang banyak jenis, beberapa hanya ditemukan di Indonesia. Flora ini punya daya tarik untuk fauna yang bisa diamati oleh pengunjung. Sayangnya, banyak makhluk ini akan bergegas pergi dan menyembunyikan diri ketika meli¬hat kehadiran manusia. Meskipun semua satwa yang ada di tulisan ini sudah kami lihat dan dengar di sekitar Vila Botani pada suatu waktu, kemunculan mereka tidak bisa dilihat setiap waktu.
  • Serangga – Banyak jenis serangga bisa dilihat atau didengarkan di Vila Botani. Malah ada jenis yang kedengaran tiap hari.
  • Bunga – Banyak bungga bisa diobservasi disekitar Vila Botani. Diantaranya tujuh digambarkan disini.
  • Arboretum – Di arboretum (taman botani) kami ada sekitar 2000 pohon, termasuk 250 jenis, kebanyakan lokal.
  • Burung – Bedasarkan survey, ada 40 jenis burung suka datang ke Vila Botani. Disini tampil photo dari 10 jenis burung.
  • Primata – Lima jenis primata bisa ditemukan disekitar Vila Botani, terutama di Taman Nasional. Salah satu jenis suka mampir ke Vila Botani sewaktu-waktunya.
  • Mamalia lain – Selain primata, banyak jenis mamalia bisa juga diobservasi, diantaranya delapan digambarkan disini.
  • Reptil & Amfibi – Banyak jenis reptile dan amfibi ditemukan di sekitar Vila Botani, diantaranya lima yang digambarkan disini – termasuk kodok yang kedengaran setiap malam.

 

 
FAUNA
SERANGGA
Beberapa serangga yang akan ditemui di Vila Botani.
Tonggeret
   
Cicadoidea, cicadas, tonggeret, oer-oer, uir-uir merupakan satu keluarga dengan serangga yang lebih kecil, seperti belalang sembah dan kepinding. Sekitar 2500 jenis cicada sudah didaftarkan, banyak jenis belum didaftarkan.

Kelompok cicada dikenal sebagai tonggret atau oer-oer (uir-uir) merupakan serangga paling keras dengan level tekanan suara 120 desibel, setara dengan suara mesin bor atau klakson mobil. Tonggeret akan berbunyi berisik menjelang malam. Artikel di Wikipedia mengatakan, “Nyanyian cicada dibuat oleh cicada jantan dengan sumber suara keras yang dinamakan “timbals” yang terletak di bagian sisi dasar abdomen.”

Cicadas memiliki mata yang menonjol lebar, antena pendek, dan membran sayap depan. Mereka hidup di pohon, makan dari getah/cairan tumbuhan, dan menyandarkan telurnya di celah kulit kayu. Sebagian besar cicadas bernyanyi untuk menjauhkan pemangsa.

Cicadas sudah dihadirkan dalam literatur sejak masa Illiad karya Homer, dan sebagai motif dalam seni Cina. Mereka muncul dalam mitos dan foklor untuk melambangkan kehidupan yang saling riang dan lestari.
 
 
 
FLORA
 
 
BUNGA
Bunga Teratai
   
Bungga teratai (Lotus atau Nelumbo nucifera) melambangkan kemurnian, kecantikan, keanggunan, kesuburuan, kekayakan, pengetahuan, dan ketenteraman.

Teratai adalah bunga suci untuk umat Hindu dan Buddha. Lotus merupakan simbol kesetaraan dari Buddha untuk umat Buddha.

Pada umumnya teratai berwarna putih dan pink dan tumbuh di air dangkal dan air keruh. Tanaman mempunyai akar yang kuat di dalam lumpur dan mengirimkan batangnya keluar untuk memasang daun-daunnya. Kadang-kadang daun teratai mencapai di atas permukaan air, sedangkan bungany selalu ada di atas permukaan air. Kecantikan bunga teratai menyukai hangat sinar matahari yang terbuka pada pagi hari sementara mahkotannya akan gugur pada sore hari.
 
CLICK HERE to READ MORE ofThe Legend of The Lotus
 
Bunga Pagoda
   
Bunga pagoda (Clerodendrum paniculatum) merupakan tanaman asli kawasan tropis Asia. Ketika bunga mekar, tanaman pagoda, dengan bunganya yang dramatis berwarna merah oranye tersusun dalam lonceng yang besar, menarik perhatian. Bunga pagoda umum tumbuh di Asia sebagai tanaman obat. Bunga pagoda dikonsumsi sebagai obat pencahar dan daunnya diplester di perut untuk menghilangkan perut kembung. Akar dan daunnya dikatakan berkhasiat obat sebagai anti pembengkakan dan obat penenang. Atribut magis juga disematkan di tanaman ini. Di Malaysia, tanaman ini digunakan untuk memangil arwah dan memberi perlindungan terhadap kejahatan.
   
Kembang Sepatu
   
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) merupakan perdu, semak yang hijau sepanjang tahun yang tumbuh antara 2,5-5m dan 1,5-3m lebarnya, dengan daun mengilap dan tunggal, bunga berwarna merah cerah pada musim panas. Terdapat 5 mahkota bunga dengan diameter 10cm , dengan bagian menonjol berwarna oranye, ujungnya berupa kepala sari berwarna merah.

Bunga sepatu ini bisa dimakan dan digunakan untuk salad atau dibuat teh herbal menghasilkan warna dari merah tua hingga magenta, warna dari bunga roselle (Hibiscus sabdariffa). Teh ini dikonsumsi baik panas maupun dingin. Bunga juga ditambahkan untuk pemujaan, khususnya untuk bunga yang berwarna merah terang.
     
Bunga Cempaka putih
   
Marga: Magnolia. Juga dikenal sebagai cempaka putih atau kantil (Magnolia champaca). Cempaka banyak dibudidayakan di kawasan tropis Asia. Bunga cempaka umumnya dibudidayakan sebagai tanaman hias di kawasan tropis dan subtropis di Asia Tenggara untuk bunga yang aromanya sangat wangi. Cempaka juga menghasilnya minyak esensial yang diekstrak dari bunga ini.
   
Anggrek tanah
   
Anggrek tanah (Spathoglottis plicata) merupakan anggrek spesies yang tumbuh di tanah, ditemukan di kawasan tropis dan subtropis Asia. Anggrek tanah ini juga dikenal sebagai large purple orchid. Kerap ditemukan di tempat terbuka maupun di area lembab, yang disinari matahari, dekat dengan kawasan rawa dan rembesan air.
   
Anggrek merpati
   
Nama umumnya anggrek merpati (Dendrobium crumenatum), anggota dari keluarga anggrek (Orchiodaceae). Asli Indonesia dan Papua Nugini dan tumbuh di beberapa lokasi, dari tempat penuh sinar matahari.

Siklus berbunga terpicu setelah 9 hari oleh suhu yang turun mendadak ( paling tidak 5,5 derajad celcius atau 10 derajad Fahrenheit), biasanya perubahan suhu mendadak ini dihasilkan oleh hujan. Anggrek merpati beraroma wangi, tetapi aroma ini hanya bertahan sehari.
   
   
Bunga tepus, atau Scarlet Earth Ginger (Achasma megalocheilos) kerap terlihat di hutan dalam Taman Nasional, tumbuh keluar dari dalam tanah, dengan tinggi 1-2cm.
     
Arboretum
   
Separuh dari lahan Vila Botani ditanam koleksi pepohonan. Studi hutan tropis menemukan banyak ragam spesies khas, sejumlah 200 jenis per hektar di hutan tropis yang asli. Keanekaragaman ini jauh beda dari yang kita sering lihat saat hiking, karena di hutan yang ditanam manusia, biasanya pemerintah, satu jenis pohon saja mendominasi satu lahan – seperti di Taman Nasional di samping Vila Botani , spesies utama adalah pinus atau puspa. Untuk mengamati ragam tumbuhan hutan yang sebenar¬nya, kita harus berjalan beberapa jam dari kampung untuk mencapai hutan perawan yang belum pernah ditebang.

Hampir semua pohon di Vila Botani asli Jawa Barat, walaupun beberapa berasal dari berbagai tempat lain di Indonesia atau bahkan, sebagai contoh cempaka, berasal dari India. Kebanyakan pohon lokal berasal dari kelompok tumbuhan sub-montana (yang biasanya tumbuh di ketinggian antara 600 dan 1500 mdpl) dan termasuk keluarga ini:

  • Euphorbiaceae, keluarga pohon karet-karetan
  • Lauraceae, keluarga pohon salam-salaman
  • Fagaceaem, keluarga ek (oak) pasang tropis
  • Moraceae, keluarga murbei atau pohon ara
  • Myrtaceae, keluarga myrtle (atau murad)


Total sekitar 2000 pohon sedang ditanam, yang mana 1800 sudah ditanam, menampilkan lebih dari 240 spesies berbeda. Sebagaimana ketika pohon semakin besar, staf Vila Botani juga menanam berbagai jenis semak di bawahnya, maka arboretum akan mirip dengan hutan tropis ketika pohon mencapai ukuran penuh. Sejak 2012, staf Vila Botani memberi plat nama di setiap pohon.

Rasamala dan puspa merupaka pohon di antara yang paling tinggi dan banyak ditanam. Beragam jenis pasang (ek atau oaks) tropis ditanam bersama di “Kebun Pasang” ke arah bagian atas Vila Botani. Kelompok yang lebih kecil, juga ditanam ke arah atas, termasuk keluarga dipterokarp, dengan getah yang bisa ditampung dan dijual sebagai resin . Di sini namanya “Kebun Damar”, berdasarkan nama getahnya. Kelompok yang satu lagi, beragam jenis dalam kelompok Lauraceae atau keluarga salam ditanam di “Kebun Huru” di bagian bawah dari Vila Botani .

Proporsi pohon yang tidak tumbuh rendah, hanya sekitar 10 persen dari jumlah yang ditanam di arboretum. Beberapa spesis tertentu kurang cocok dengan kondisi tanah di Vila Botani. Untuk spesis-spesis tersebut, tingkat kematian tanaman relatif tinggi. Contohnya jenis pohon jabon dan calik angin.